Ciri Manusia Modern Indonesia

Kamis, 14 Juni 2012 | komentar


Ciri Manusia Modern Indonesia


1. Konsumtif
Jakarta Great Sale (JGS) yang dibuka bulan Juni 2012 hingga pertengahan Juli 2012 menandakan akan tingginya daya beli masyarakat modern di kota besar di Indonesia. Tidak percaya? Berapa penghasilan dan keuntungan yang diraup pihak Pekan Raya Jakarta Jakarta Fair tahun 2011? Kita sering terbuai dengan pesta diskon, beli 1 gratis 1, dan promo lainnya. Ketika kita sudah memiliki suatu barang elektronik seperti telepon selular, kita juga senang membeli barang yang sama dengan fitur berbeda. Belum puas ber-BBM, kita masih membeli IPad dan Android. Kita lebih senang berbelanja suatu barang yang tidak kita perlukan. Sudah pakai laptop, kita membeli tablet atau smart phone.
Menurut pakar keuangan dan investasi Aidil Akbar Madjid, pengeluaran keuangan harus digolongkan dalam 3 kategori: wajib, butuh, ingin. Pengeluaran wajib yakni pengeluaran yang wajib dibayarkan seperti biaya listrik, biaya kebutuhan pokok, biaya air, telpon dan hutang. Pengeluaran bersifat butuh yakni seputar barang yang dibutuhkan untuk pendukung kehidupan sehari-hari seperti bahan bakar, deterjen, sabun, pasta gigi, sayur mayur, dsb. Sementara pengeluaran bersifat ingin ialah seputar barang yang akan dibeli jika kewajiban dan kebutuhan sudah terpenuhi.  
Maka, ketika ingin membeli sesuatu, pikirkan terlebih dahulu, apakah barang yang ingin dibeli tergolong wajib, butuh atau ingin? Jangan membeli barang yang diinginkan menjadi suatu kewajiban. Sementara kewajiban belum terpenuhi.
Sumber foto: Tribunenews

2. Prestise bukan Prestasi
Masyarakat modern di kota besar di Indonesia cenderung mengutamakan prestise (prestige) atau gengsi ketimbang prestasi. Buktinya, kita selalu kalah di ajang bulu tangkis internasional. Kita minim prestasi dalam sepakbola di kancah dunia. Industri musik kita jarang mencetak musisi berkelas dunia. Tetapi, faktanya kita mampu mendatangkan klub sepak bola Intermilan untuk bertanding melawan tim Indonesia. Kita juga mampu mendatangkan musisi kelas dunia untuk tampil di Indonesia. Dari boyband Super Junior sampai Maroon 5. Bahkan, tidak sedikit yang menghadiri pertandingan dan konser bertaraf dan bertarif internasional tersebut. Mana prestasimu?
Malahan, provinsi berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai Ujian Nasional UN paling tinggi dengan kelulusan siswa 100%. Apakah kita cukup bangga dengan hasil  kelulusan UN siswa di sekolah yang mencapai 100%? Apakah hasil (output) dari UN? Apakah Murid yang perokok, Murid yang tawuran antarpelajar, murid yang mengikuti budaya asing?


3. Pengikut follower
Masyarakat modern Indonesia, lebih suka menjadi pengikut ketimbang diikuti. Buktinya, banyak penonton yang memadati konser Super Junior, Java Jazz Festival tiap tahun, dan gaya-gaya Jepang. Selain itu, di bidang elektronik, kita lebih suka menggunakan jejaring sosial seperti facebook, twitter, skype ketimbang kita menciptakan. Sama halnya dengan program antivirus yang sering kita unduh. Mengapa kita tidak bisa menciptakan lebih banyak antivirus lokal kualitas interlokal?
Para pengikut di Indonesia dalam hal berkomunikasi cukup terbukti dengan kehadiran Blackberry. Setiap orang yang memiliki BB sibuk meng-update di BBM setiap detik, setiap jam, setiap pindah lokasi, setiap terjadi sesuatu. Belum lagi pengguna Apple Iphone yang tidak kalah banyak. Kapan kita bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain?
Perokok di Indonesia cenderung tinggi peminatnya, karena awalnya IKUT-IKUTAN.
Begitu juga dengan pengguna Narkotika/ Narkoba yang juga awalnya IKUT-IKUTAN.
  
4. Jarang berpikir Empiris
Masyarakat modern Indonesia lebih suka berpikir dengan menggunakan PERASAAN atau feeling daripada dengan fakta-fakta. Orang Indonesia, bangun tidur sudah membicarakan orang lain, dan sudah mengkritik pemerintah. Orang Indonesia lebih suka berkelahi atau tawuran antarwarga dan antarpendukung sepak bola yang akar permasalahannya belum jelas. Mereka mudah terhasut, terprovokasi, terpengaruh untuk IKUT-IKUTAN berkelahi, memukuli, melempari bahkan membunuh.

Bahkan Keputusan dan Kebijakan Pemerintah banyak yang tanpa didasari Kajian Ilmiah terlebih dahulu.
Seperti Kebijakan Jurnal Nasional dan Internaisonal sebagai Syarat Lulus, Kebijakan Hemat Energi, Keputusan Keberadaan Wakil Menteri dan lainnya.

5. Orientasi Bisnis
Hebatnya, Masyarakat Indonesia memiliki orientasi bisnis yang cukup tinggi. Banyak masyarakat menengah ke bawah yang berbisnis dengan berjualan. Artinya, apapun yang bisa menghasilkan, pasti dijual. Masyarakat menengah ke atas pun demikian. Dari bisnis perumahan mewah, apartemen, hotel, kondominium, elektronika dan sebagainya menjamur di Indonesia. Tidak percaya? Lihatlah jalan utama (protokol) di Kota dan Kabupaten, pasti ada warung atau toko yang berjualan di sisi kanan dan sisi kiri jalan. 

Itulah Ciri Manusia Modern Indonesia Saat Ini. Berdasarkan Kajian dengan Pendekatan Deskriptif Kualitatif @2012 oleh Ridwan Arifin.


Share this article :

Poskan Komentar

 
© 2012 Bahasa, Budaya, Penerjemahan - Ridwan Arifin

Template : Mas Template
Edited :
Toko Online Perlengkapan Haji dan Umrah
BERANDA | KEMBALI KE ATAS