Selebritas

Rabu, 25 April 2012 | komentar


Selebritas

“Kualitas Acara Masih Buruk”, merupakan judul suatu artikel di KOMPAS 5 Juli 2009 dan ini berdasarkan hasil survei “rating” publik keempat yang digelar Yayasan Sains Etika dan Teknologi pada April – Mei 2009. Hasilnya, acara Kick Andy (Metro TV) dianggap berkualitas. Sebaliknya, program terburuk didominasi sinetron, talk show dan reality show. Saya setuju, karena pemirsa dijadikan tolok ukur dalam survei ini.
Selain beberapa program terburuk ini, banyak pula tayangan informasi dan gosip tentang orang-orang terkenal atau pemain sinetron dalam acara Kabar-Kabari, Halo Selibriti, Kasak-kusuk, Insert (informasi selebriti) dan sebagainya yang lebih tidak berkualitas. Tak heran, hampir semua stasiun TV menulis kata selebriti atau selebritis untuk status seseorang yang diwawancarai. Bahkan penulisan kata artis pun kerap terjadi dan ditujukkan baik untuk pemain sineron/film maupun musisi/penyanyi. Ada pula tayangan terbaru di salah satu stasiun TV swasta yakni Realgi atau Realiti Religi serta Selebriti Anak. Setali tiga uang, penggunaan kata serapan reality menjadi realiti.
Lama-lama saya bingung sendiri terhadap fenomena kata serapan asing ini. Menurut kaidah penerjemahan, ini disebut penerjemahan fonologis atau phonology translation yang ditulis Newmark dalam bukunya The Handbook of Translation 1989. The word in the target language is not found out equivalent so the translator decides to create the new word in which the sound phonologically and graphologically is adapted from the source language, artinya jika kata dalam teks sasaran tidak ditemukan padanannya maka penerjemah menciptakan kata baru sesuai dengan bentuk fonologis atau bunyi yand diadaptasi dalam bahasa sumber.

Jika memang demikian, nomina (noun) quality diterjemahkan menjadi kualitas, quantity menjadi kuantitas, commodity menjadi komoditas, stability menjadi stabilitas. Maka, kata-kata dalam bahasa Inggris yang memiliki sufiks -ity akan berubah sufiks dalam bahasa Indonesia menjadi -tas. Mengapa celebrity menjadi selebriti atau selebritis?
Akan tetapi, apakah Bahasa Indonesia mempunyai morfem terikat -tas? Andai saja morfem ini termasuk ke dalam sufiks, jadi secara morfologis, kata celebrity dapat dialih eja menjadi selebritas alih-alih selebrti atau selebritis. Ternyata, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2003:237-238) edisi ketiga terbitan Pusat Bahasa, Bahasa Indonesia memiliki sufiks yang diserap dari kata asing yakni -isme, -(is)sasi, -logi dan -tas.
Tetapi saya semakin bingung ketika membuka KBBI (2002:1019) edisi ketiga terbitan Pusat Bahasa. Mengapa KBBI menuliskan lema selebriti? Apa yang menjadi alasan sehingga Pusat Bahasa memasukkan lema selebriti? Setali tiga uang, kenyataanya KBBI dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia diterbitkan oleh Pusat Bahasa.
Kesimpulannya, sebagai penerjemah saya lebih ‘nyaman’ menggunakan kata selebritas dengan alasan mengikuti kaidah penerjemahan dengan teknik phonology translation. Selain itu, semua nomina yang bersufiks -ity dialihejakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi -tas bila mengacu kepada Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Mudah-mudahan para pembuat acara di stasiun TV lebih memerhatikan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai kaidah. Amin!

Juli 2009

Share this article :

Poskan Komentar

 
© 2012 Bahasa, Budaya, Penerjemahan - Ridwan Arifin

Template : Mas Template
Edited :
Toko Online Perlengkapan Haji dan Umrah
BERANDA | KEMBALI KE ATAS