Bahasa Indonesia dalam Reportase Banjir

Senin, 21 Januari 2013 | komentar


Ihwal Banjir
Ketika menyaksikan liputan langsung di MetroTv tanggal 17 Januari 2013 terkait banjir di DKI Jakarta, saya dikejutkan dengan judul tayangan bertuliskan ‘Banjir Kepung Jakarta’.
Entahlah, ini bagian dari pemasaran dalam jurnalisme untuk menarik pemirsa lebih banyak menonton atau malah pemahaman diksi para pewarta saat ini dirasa sangat kurang. Dalam mewartakan banjir di Ibukota Indonesia ini, saya mencatat bahwa sebagian besar media menggunakan kata ‘kepung’ dan ‘rendam’ serta frasa ‘banjir kiriman’ bahkan ‘langganan banjir’.
Dalam KBBI IV terbitan 2008, kata ‘kepung’ atau ‘berkepung’ bekelas kata verba memiliki arti (berdiri, duduk) mengelilingi sesuatu semisal ‘duduk berkepung lebih enak rasanya dari pada makan sendiri’. Kamus ini juga merekam sublema ‘mengepung’ sebagai kata kerja yang berarti mengelilingi sesuatu sehingga yang dikelilingi atau yang ada di dalamnya tidak dapat meloloskan diri. Contohnya, ‘penduduk kampung mengepung pencuri itu’ atau ‘pasukan pemberontak telah mengepung kota’. Nah, kata ‘kepung’ juga berasosiasi dengan musuh dan menghadang dengan mengelilingi musuh itu di dalamnya. Apakah ‘banjir’ mengelilingi Jakarta sehingga di tengah Jakarta kosong dan tidak ada yang dapat lolos?
Tersua pula judul ‘Banjir Rendam Jakarta’. Padahal,  ‘rendam’ dan ‘berendam’ sebagai verba bermakna berada di dalam air (barang cair) umpamanya setiap pagi ia mandi berendam di sungai. Tercatat juga sublema merendam dengan arti menaruh di dalam air (barang cair) beberapa lamanya, seperti ia merendam bajunya yang kotor di dalam air sabun. Dalam judul ini, Banjir tidak bisa sebagai subjek, tetapi banjir sebagai akibat dari hujan yang lebat atau tanggul jebol.
Struktur sintaksis dalam reportase perlu diperbaiki menjadi ‘Banjir Genangi Jakarta’, ‘Jakarta Terendam’, ‘Jakarta Tergenang’ atau yang sedikit hiperbolis ‘Banjir Maut Mengisolasi Jakarta’. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia Endo Endarmoko tahun 2006, termaktub pilihan kata seperti ‘landa’, ‘serang’, ‘menimpa’, ‘terjang’, ‘terpa’, ‘menghantam’.
Ada kalanya, ‘Banjir Kiriman’ dari Kota Bogor menjadi salah satu penyebab banjir di Jakarta. Faktanya, ‘Kiriman’ berarti barang yang dikirimkan; barang yang dititipkan.Apakah Bogor yang mengirim banjir ke Jakarta? Apakah Jakarta menitip banjir? Bisakah disebut ‘Banjir Titipan’? Padahal, kata ‘Kiriman’ tersurat dalam Tesaurus Bahasa Indonesia dengan ‘antaran’, ‘bestelan’, ‘bingkisan’, ‘paket’, dan ‘pesanan’.
Setali tiga uang, ‘langganan banjir’ pun kerap dirujuk pada daerah sering kena banjir seperti Kampung Melayu, Pluit, Kelapa Gading. Mengapa demikian? Siapa yang memesan dan berlangganan banjir? Karena ‘langganan’ berarti berjual beli secara tetap.
Seyogiyanya, pekamus berikutnya menambah khazanah makna kata ‘kiriman’ dan ‘langganan’ untuk mewadahi keadaan banjir tahun mendatang.
Sampai-sampai jurnalis mewartakan keadaan banjir dengan ukuran selutut, sepaha, sepinggang, sedada dan selehar bukannya dengan centimeter dan meter.
Sekedar mengingatkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah membuat ‘Banjir Kanal Timur’ atau BKT yang sepatutnya disebut ‘Kanal Banjir Timur’ dengan pola Diterangkan-Menerangkan, berasal dari Bahasa Belanda “banjdir kanaal’.
Salam!
Share this article :

Poskan Komentar

 
© 2012 Bahasa, Budaya, Penerjemahan - Ridwan Arifin

Template : Mas Template
Edited :
Toko Online Perlengkapan Haji dan Umrah
BERANDA | KEMBALI KE ATAS