IRONI di INDONESIA

Selasa, 29 Mei 2012 | komentar


NEGERI PENUH IRONI
Setelah membaca novel berjudul ‘Life’s little Ironies’ karya Thomas Hardy, dapat dianalogikan bahwa Indonesia termasuk negeri yang juga penuh ironi. Indonesia yang dimaksud ini adalah unsur eksekutif, legislatif, yudikatif, pemerintah (pusat dan daerah), hingga masyarakatnya.
Buktinya, Indonesia dikenal negeri yang ramah dan sopan tapi geng motor dan perkelahian antarwarga terjadi dimana-mana. Indonesia memiliki segudang prestasi di bidang olimpiade ilmiah dan matematika, tapi masih banyak guru sekolah yang hanya sebatas mengajar, ditambah fisik bangunan yang kurang terawat hampir ambrol.
Lulusan universitas negeri di Indonesia bahkan orang yang berprestasi rata-rata bekerja di negeri orang, tapi banyak tenaga kerja asing dan tenaga ahli asing bekerja di Indonesia sebagai Top Level Management. Indonesia surga belanja murah dan berkualitas, Indonesia juga surga parawisata, seni dan budaya, tetapi tidak sedikit orang yang berbelanja ke Singapura, berlibur ke Malaysia, Eropa, Australia dan Amerika. Tidak jarang pula orang Indonesia yang membenci Malaysia, tapi melihat di jejaring sosial seperti Facebook tersua banyak orang Indonesia berpose bak artis di depan menara kembar Malaysia.
Pun, negeri ini dipenuhi limpahan kekayaan alam. Barang tambang dari emas, timah, bauksit, aspal, minyak bumi, gas alam, sampai uranium, tetapi Indonesia masih saja impor BBM, dan hampir semua dikuasai perusahaan asing. Kekayaan hasil bumi dari Sabang hingga Merauke, Pulau Miangas ke Pulau Rote sangat berlimpah, tapi harga cabai, harga sembako, harga pupuk, harga-harganya selangit, parahnya banyak juga yang hasil impor.
Negeri ini perang melawan narkotika, tapi Corby terdakwa dan seorang ratu ganja dengan berat 4.2 kg mendapat grasi 5 tahun. Negeri ini perang melawan Korupsi, pedang ditegakkan berdiri di depan menumpas korupsi, tapi korupsi sudah terdesentralisasi ke daerah-daerah. Malahan, korupsi dan suap kerap terjadi di partai politik penguasa yang pemimpinnya pemegang pedang pemberantas korupsi.
Konser Lady Gaga akhrinya batal dengan alasan keamanan dan tidak sesuai moral serta budaya Indonesia, tapi Super Junior dengan lagu dan budaya Korea Selatan Korean Wave berlangsung selama tiga hari. Band legendaris Dream Theatre beraliran rock dan metal, tetapi keamanan tetap terjaga dan kondusif.
Orang Indonesia lebih menyukai menggunakan bahasa asing terutama Bahasa Inggris, ketimbang Bahasa Indonesia. Terbukti dari penggunaan judul acara di televisi, iklan-iklan hingga menulis status di jejaring sosial twitter dan facebook. Tempatkan dan gunakanlah bahasa asing di tempat yang benar dan sesungguhnya. Padahal, Bahasa Indonesia dipelajari oleh mahasiswa di belahan dunia seperti Australia, Belanda dan Rusia. Negeri ini juga bersifat inferior complex artinya menganggap orang asing lebih tinggi derajatnya, mungkin pengaruh penjajahan selama 350 tahun yang memunculkan sifat feodalisme. Buktinya, banyak orang asing menjadi bintang tamu dan pengisi acara di media TV.
Media cetak dan elektronik sangat berperan dalam menuntun masyarakat Indonesia dalam belajar kehidupan berbudaya, beragama, dan bersifat netral sebagai fasilitator pembangunan. Akan tetapi, pemimpin media besar sudah membentuk partai politik menuju kekuasaan.
Semoga segenap Bangsa Indonesia dapat kembali ke fitrah agama, mencintai dan menerapkan budaya dan adat istiadatnya, sehingga semua permasalahan dapat dilakukan dengan pendekatan budaya dan agama atau culture and religion approach untuk menumbuhkan kembali kearifan lokal local culture.

Share this article :

Poskan Komentar

 
© 2012 Bahasa, Budaya, Penerjemahan - Ridwan Arifin

Template : Mas Template
Edited :
Toko Online Perlengkapan Haji dan Umrah
BERANDA | KEMBALI KE ATAS